Sabtu, 15 Juni 2013


SIAPA tak mengenal Affandi. Sang maestro lukis Indonesia ini meski telah lebih dari 20 tahun tiada, tetapi nama dan karya-karyanya tetap diakui oleh pecinta seni lukis.
Affandi wafat pada tahun 1990 dengan meninggalkan ribuan karya lukis. Hingga kini pun karya lukisnya masih tersimpan rapi dalam kompleks museum, yang dulu merupakan rumah tinggalnya selagi hidup. Kini rumah Affandi menjadi museum sekaligus tempat peristirahatan terakhirnya.
Karena pernah menjadi rumah tinggal, begitu masuk kompleks museum pun langsung disambut dengan rumah panggung dengan atap berbentuk seperti pelapah daun pisang. Di depannya rumah berdiri patung besar Affandi dengan menggunakan kaus tanpa lengan yang dipenuhi dengan coretan-coretan bekas cat air, menggunakan sarung, sambil memegang cerutu di tangan kirinya.
Naik ke lantai dua, terlihat dari luar kamar Affandi dengan buku-buku dan berbagai pajangan kerajinan yang tampak sangat rapi dan bersih, terawat oleh pengelola museum.
kamar-affandi
Kamar Affandi yang ada di lantai dua rumah panggung. (Adhika)
Bangunan utama museum sendiri, yang memajang karya Affandi, berupa tiga galeri besar, galeri satu, dua, dan tiga. Pada galeri satu, tersimpan lukisan pertama Affandi yang berjudul "Potret Diri". Dedy, kurator Museum Affandi menjelaskan, dalam melukis potret diri, Affandi biasanya melihat dirinya sendiri dengan bercermin, barulah ia melukis.
Kebanyakan, tambah Dedy, lukisan Affandi saat pertama kali aktif melukis, yakni sekitar tahun 1930-an. Affandi melukis anggota keluarganya, seperti istri dan anak-anaknya. Pada lukisannya, Affandi sering memberikan "life symbol" atau simbol kehidupan berupa matahari tangan dan kaki.
"Ini dia bilang simbol kehidupan, artinya 'saya (Affandi) tanpa matahari saya enggak bisa hidup. Tangan, saya bekerja dengan menggunakan tangan. Kaki, dia bilang saya harus melangkah terus'," papar Dedy.
Namun, lanjut Dedy, tidak setiap lukisan Affandi diberi simbol. Hanya lukisan tertentu yang ia merasa senang, dan berkesan barulah dibubuhi tiga simbol kehidupan tersebut.
Adapun, lukisan terakhir Affandi sebelum ia wafat juga tersimpan di sana, yang berjudul Embrio. "Embrio ini artinya kembali lagi ke dalam janin," katanya.
Selain karya lukis yang terpajang di galeri satu, tersimpan pula benda-benda antik koleksi Affandi. Sebut saja mobil kuno Colt Gallant tahun 1976, yang masih berdiri gagah di pojok ruangan. Serta ukiran patung yang berdiri di tengah ruangan.
Salah satu yang menarik perhatian ketika melihat suatu lemari kaca yang terpajang pakaian dengan penuh coretan bekas cat lukis hampir di setiap bagiannya. Pakaian tersebut ialah pakaian milik Affandi selagi hidup dan membuat karya-karyanya.
"Baju beliau kalau sudah sampai lengket, sudah merasa risih, kalau di badan merasa gatal baru dia ganti. Kalau dia belum merasa gatal ya masih tetap untuk melukis," katanya.
Setelah dari galeri satu, galeri dua berada tak jauh disamping galeri satu. Diantara kedua galeri tersebut, terdapat makam Affandi berdampingan dengan istrinya, Maryani.
rumah-affandi
Rumah Tinggal Affandi dan keluarganya, berbentuk rumah panggung dengan atap berbentuk seperti pelepah daun pisang. (Adhika)
Dalam tulisan narasi yang terpampang tak jauh dari makam, tertulis bahwa 'Sebagai tempat peristirahatan terakhir, beliau (Affandi) telah memilih tempat pemakamannya diantara dua bangunan galeri 1 dan galeri 2, berdampingan dengan istrinya dikelilingi dengan lukisan hasil karyanya'.
Pada galeri dua, yang tersimpan ialah lukisan Affandi berupa sket serta beberapa karya yang merupakan hasil karya keluarganya. Ya, memang tak hanya karya Affandi yang terpajang di sana, melainkan juga ada karya istri dan anak-anaknya yang juga menggeluti bidang yang sama, yakni lukis.
Museum Affandi yang berada di Jl. Laksda Adisucipto 167, Sleman, Yogyakarta, buka setiap hari mulai jam 09.00 sampai jam 16.00. Untuk masuk, pengunjung dikenakan biaya Rp 10.000 per orang.
Namun sayangnya, saat masuk ke dalam galeri tempat memajang berbagai karya Affandi, pengunjung dilarang memotret. Pengambilan gambar hanya bisa dilakukan di luar galeri pameran.

Sabtu, 28 April 2012

Dodol Mangga

Dagang Dodol Mangga
   Kita sudah sering mendengar kata dodol, dan dodol ini sudah menjadi makanan khas bahkan di jadikan sebagai suatu oleh-oleh ditempat suatu daerah tertentu yang menjadi ciri makana dearah itu setelah orang mengunjungi daerah tersebut. Hampir diseluruh daerah di indonesia terdapat makanan yang satu ini yaitu dodol. nah... apa sih dodol itu sendiri...
dodol adalah sejenis makanan yang dikatagorikan sebagai makanan yang manis dan biasanya terbuat dari salah satu bahan yang mencirikan dodol tersebut misal dodol mangga berarti bahannya di dominasi oleh buah mangga.
 
 Dodol beraneka warna dan rasa siap santap 

Dodol Mangga
   Di pesisir pantai utara pulau jawa tepatnya di daerah indramayu terkenal dengan mangganya dan masarakatnya banyak yang mendirikan usaha dodol mangga secara kecil-kecilan, misal di desa sgeran kidul kecamatan juntinyuat kabupaten indramayu disitu banyak usaha dodol mangga yang sudah berdiri sejak puluhan tahun yang lalu dan sudah tidak diragukan lagi kualitas rasanya yang begitu kental dan pastinya tidak mengandung bahan kimia yang akan merusak organ tubuh bagi si pemakannya.
 
Dodol Mangga yang sudah siap saji 
Bahan 
   Bahan dari pembuatan dodol mangga ini tidak mengandung bahan kimia dan semua bahan yang dibuat dari bahan-bahan tradisional yaitu bahan-bahan hasil bumi tanpa adanya pengawet yang mencampurinya. 
Berikut bahan-bahan yang dibuat:
  • 1250 gr daging mangga
  • 300 ml air
  • 250 gr gula pasir
  • 1 sdm bubuk agar dilarutkan dengan 100 ml air
  • ½ sdt garam
  • 50 gr gula merah
Cara Membuat
  1. Blender mangga dengan air agak kasar.
  2. Taruh dalam wajan mangga halus, gula pasir, larutan agar, garam dan gula merah.
  3. Masak diatas kompor hingga kering jangan lupa harus diaduk terus, angkat ratakan diatas nampan yang dialasi plastik hingga mengeras lalu potong-potong sesuai selera, sajikan. 
nah... itu tadi bahan dan cara pembuatannya, selamat mencoba..... 
  

Jumat, 27 April 2012

Ddol Mangga

Dodl Mangga adalah

Jumat, 10 Februari 2012

Resolusi Jihad

Peran ulama dalam sejarah nasional khususnya dalam mengusir penjajah dahulu, sangat kurang dikenal oleh bangsa indonesia ini, terbukti dari buku-buku sejarah nasional yang di pelajari di lembaga pendidikan seluruh nusantara masih sedikit bahkan tidak ada dalam materi pelajaran tersebut. Resolusi jihad adalah salah satu bukti dari sekian peran ulama yang diperintahkan langsung oleh soekarno kepada KH.hasyim asy'ari dalam mengusir penjajah di surabaya.

60 tahun yang lalu, tepatnya 21-22 Oktober 1945, wakil-wakil dari cabang NU di seluruh Jawa dan Madura berkumpul di Surabaya. Dipimpin langsung oleh Rois Akbar NU Hadrotus Syekh KH. Hasyim Asy’ary dideklarasikanlah perang kemerdekaan sebagai perang suci alias jihad. Belakangan deklarasi ini populer dengan istilah Resolusi Jihad.

Segera setelah itu, ribuan kiai dan santri bergerak ke Surabaya. Dua minggu kemudian, tepatnya 10 November 1945, meletuslah peperangan sengit antara pasukan Inggris melawan para pahlawan pribumi yang siap gugur sebagai syahid. Inilah perang terbesar sepanjang sejarah Nusantara. Meski darah para pahlawan berceceran begitu mudahnya dan memerahi sepanjang kota Surabaya selama tiga minggu, Inggris yang pemenang Perang Dunia II itu akhirnya kalah.

Pasukan Inggris mendarat di Jakarta pada pertengahan September 1945 dengan nama Netherlands Indies Civil Administration (NICA). Pergerakan pasukan Inggeis tidak dapat dibendung. Sementara pemerintah RI yang berpusat di Jakarta menginginkan berbagai penyelesaian diplomatik sembari menata birokrasi negara baru, mendorong terbentuknya partai-partai politik dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR), pasukan Inggris telah menduduki Medan, Padang, Palembang, Bandung, dan Semarang lewat pertempuran-pertempuran dahsyat. Sebagian pendudukan ini juga mendapat bantuan langsung dari Jepang yang kalah perang, sebagai konsekuensi dari alih kuasa. Sedangkan kota-kota besar di kawasan timur Indonesia telah diduduki oleh Australia.

Pasukan Inggris lalu masuk ke Surabaya pada 25 Oktober 1945, berkekuatan sekitar 6.000 orang yang terdiri dari serdadu jajahan India. Di belakangnya membonceng pasukan Belanda yang masih bersemangat menguasai Indonesia. Resolusi Jihad meminta pemerintah untuk segera meneriakkan perang suci melawan penjajah yang ingin berkuasa kembali, dan kontan disambut rakyat dengan semangat berapi-api. Meletuslah peristiwa 10 November. Para kiai dan pendekar tua membentuk barisan pasukan non reguler Sabilillah yang dikomandani oleh KH. Maskur. Para santri dan pemuda berjuang dalam barisan pasukan Hisbullah yang dipimpin oleh H. Zainul Arifin. Sementara para kiai sepuh berada di barisan Mujahidin yang dipimpin oleh KH. Wahab Hasbullah.

Di saat-saat yang bersamaan, saat-saat perang kemerdekaan sedang berkecamuk dan terus digelorakan oleh para kiai dan santri, dinamika dan persaingan politik dalam negeri semakin memanas. Pada bulan Oktober Partai Komunis Indonesia (PKI) didirikan kembali. Lalu setelah Makloemat Iks (4 November) dikeluarkan oleh Wakil Presiden Mohammad Hatta, partai-partai politik lain juga bermunculan. Dideklarasikanlah Pesindo dan partai Islam Masyumi. Lalu, Maklumat Hatta 11 November mengubah pemerintahan presidensial menjadi parlementer, pemerintah harus bertanggungjawab kepada KNIP yang berfungsi sebagai parleman. Kabinet parlementer ditetapkan pada 14 November, dipimpin Perdana Menteri Sjahrir dan Mentri Keamanan Amir Syarifudin.

Januari 1946, PNI dibentuk lagi tanpa Soekarno. Di sisi lain, “Tentara profesional” dan kelompok gerilyawan melakukan konsolidasi. Pada saat-saat itu juga Indonesia sedang mengalami “revolusi sosial” hingga ke desa-desa. Pertikaian merajalela dan kekacauan tak terhindarkan lagi. Waktu itu timbul pertikaian horisontal yang terkenal dengan “Peristiwa Tiga Daerah” yakni Brebes, Pemalang dan Tegal. Kondisi inilah, tak pelak memberi peluang bagi upaya-upaya militer Belanda (yang sebelumnya datang membonceng sekutu) untuk semakin merangsek masuk menguasai kota-kota besar di Indonesia. Belanda semakin intensif menguasai Jakarta, sehingga Pemerintah Republik terpaksa mengungsi ke Yogyakarta pada Januari 1946.

Maret 1946, PM Sjahrir mencapai kesepakatan rahasia dengan van Mook bahwa Belanda mengakui kedaulatan RI secara de facto atas Jawa, Madura, dan Sumatera. Sementara Belanda berdaulat atas wilayah-wilayah lainnya. Kedua belah pihak juga menyepakati rencana pembentukan uni Indonesia-Belanda.

Di tengah tekanan Belanda itu NU menyelenggarakan muktamar yang pertama setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Muktamar ke-16 itu diadakan di Purwekorto pada 26-29 Maret 1946. Salah satu keputusan pentingnya, NU menyetuskan kembali Resolusi Jihad yang mewajibkan tiap-tiap umat Islam untuk bertempur mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang saat itu berpusat di Yogyakarta. Kewajiban itu dibebankan kepada setiap orang Islam, terutama laki-laki dewasanya, yang berada dalam radius 94 km dari tempat kedudukan musuh. (Radius 94 diperoleh dari jarak diperbolehkannya menjamak dan menqoshor sholat). Di luar radius itu umat Islam yang lain wajib memberikan bantuan. Jika umat Islam yang dalam radius 94 kalah, maka umat Islam yang lain wajib memanggul senjata menggantikan mereka.

Dalam podatonya, Mbah Hasyim Asy’ari kembali menggelorakan semangat jihad di hadapan para peserta muktamar. untuk disebarkan kepada seluruh warga pesantren dan umat Islam. Syariat Islam menurut Mbah Hasyim tidak akan bisa dijalankan di negeri yang terjajah. ”…tidak akan tercapai kemuliaan Islam dan kebangkitan syariatnya di dalam negeri-negerijajahan.” Kaum penjajah datang kembali dengan membawa persenjataan dan tipu muslihat yang lebih canggih lagi. Umat Islam harus menjadi pemberani.

Apakah ada dari kita orang yang suka ketinggalan, tidak turut berjuang pada waktu-waktu ini, dan kemudian ia mengalami keadaan sebagaimana yang disebutkan Allah ketika memberi sifat kepada kaum munafik yang tidak suka ikut berjuang bersama rasulullah…

Demikianlah, maka sesungguhnya pendirian umat adalah bulat untuk mempertahankan kemerdekaan dan membela kedaulatannya dengan segala kekuatan dan kesanggupan yang ada pada mereka, tidak akan surut seujung rambut pun.
Barang siapa memihak kepada kaum penjajah dan condong kepada mereka, maka berarti memecah kebulatan umat dan mengacau barisannya…..
… maka barang siapa yang memecah pendirian umat yang sudah bulat, pancunglah leher mereka dengan pedang siapa pun orangnya itu…..

Perang terus berkecamuk, jihad terus berlangsung. Belanda yang sebelumnya membonceng tentara Sekutu terus melancarkan agresi-agresi militernya. Pihak Inggris sebenarnya tidak senang dengan cara-cara yang ditempuh oleh Belanda. Pada Desember 1945 pemerintah Inggris secara tidak resmi mendesak pemerintah Belanda agar agar mengambil sikap yang lebih luwes terhadap Republik Indonesia. Pada 1946 diplomat Inggris, Sir Archibald Clark Kerr, mengusahakan tercapainya persetujuan Linggarjati antara republik Indonesia dengan Belanda. Persetujuan ditandatangani, namun Belanda tiba-tiba meancarkan agresi militernya. Menjelang akhir 1946, komando Inggris di Asia Tenggara dibubarkan, dan ”tanggung jawab” atas Jawa dan Sumatera diserahkan sepenuhnya kepada Belanda. Sejak itu, orang asing yang semakin terlibat dalam pertikaian antara Republik Indonesia dan Belanda, menggantikan Inggris, adalah Amerika Serikat. Mungkin sampai sekarang.

http://www.nu.or.id/page/id/dinamic_detil/7/7662/Fragmen/Resolusi_Jihad.html posted 11/02/2012

Kamis, 29 September 2011

ternyata tuhan ga' tidur

zwani.com myspace graphic comments
Terima kasih anda telah berkunjung di blog kami dan beri komentar anda pada postingan kami..... Terima kasih anda telah berkunjung di blog kami dan beri komentar anda pada postingan kami.....

 
Free Host | new york lasik surgery | cpa website design